Sempat Didiagnosa PCOS, Sekarang Mau Punya Anak Tiga


Halo... Apa kabar para perempuan tangguh yang lagi baca blog-ku ini? Semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu ya. Amin. 


Kali ini aku mau sedikit cerita dan sharing soal kehamilan nih. Sebenarnya aku udah pernah menulis tentang ini di blog lama, tapi gatel pengen bahas lagi soalnya masih banyak aku temui para perempuan yang masih tidak percaya diri dan pasrah di luar sana. 


Lah… Emang kenapa sih mak? Cerita apaan ini? Oke, oke, sabar, sabar, aku bakal ceritain.


Seperti yang aku bilang, cerita ini ada hubungannya dengan masalah kesuburan, reproduksi perempuan, dan kehamilan. Mungkin diantara kalian sudah ada yang pernah dengar tentang PCOS? 


Bagi yang belum familiar dengan istilah ini, aku sharing sedikit. PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik adalah suatu kondisi terganggunya fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur. Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui. Tanda-tanda awal seorang perempuan menderita PCOS adalah siklus haid dan masa subur (ovulasi) yang tidak beraturan. Apabila dilakukan USG, akan terlihat banyak kista (kantung berisi cairan) pada ovarium, sebenarnya ini adalah sel telur yang tidak matang dan tidak keluar menjadi darah haid. Jika seorang wanita mengalami setidaknya dua dari tiga tanda awal itu, maka kemungkinan ia mengidap PCOS.


Gejala PCOS


Beberapa gejala seseorang mengidap PCOS akan terlihat jelas saat mereka menginjak usia 16 – 24 tahun. Berikut Beberapa gejala PCOS yang aku lansir dari berbagai sumber:


- Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau dada.
- Kulit berminyak atau berjerawat.
- Rambut kepala rontok atau menipis.
- Stres/Depresi.
- Siklus haid tidak teratur.


Nah, aku mau cerita soal ini nih. Beberapa waktu lalu pas aku kontrol jahitan ke dokter kandungan, aku ketemu sama salah satu perempuan yang lagi nunggu antrian. Biasalah ya aku suka sksd, nanya-nanya mo ngapain (kepo). Si mbak ini bilang mau promil (kebetulan RS yang aku datengin cukup terkenal di Depok dan ada khusus promil nya gitu). Dia cerita udah 3 tahun belum hamil. Udah nyoba sana-sini, terapi ini itu. Tapi tetap nggak berhasil. Sudah mendekati pasrah dan pengen coba di RS itu. Aku jadi stunning, bingung mau comfort dia gimana, aku ga biasa gitu hehe. Akhirnya aku bilang, "semangat mbak, kalo udah rezeki pasti dikasih. Intinya makan sehat dan jangan stres mbak. Bawa happy aja, jangan malah dijadikan tekanan karena belum bisa hamil, aku dulu juga gitu kok". 


Yup. Bagi yang udah pernah baca blog lama aku, pasti tahu kalau dulu aku pernah didiagnosa mengalami PCOS oleh dokter. Yap, tepatnya pertengahan Juni tahun 2016 lalu, aku mendapatkan diagnosa PCOS dari salah satu dokter OBGYN, atau lebih dikenal dengan dokter kandungan dari rumah sakit terkenal di Jakarta. Emang sih, siklus haid aku itu nggak pernah teratur. Dari dulu sampai sekarang punya anak dua pun begitu. Normalnya kan kalau perempuan memiliki siklus haid antara 21 sampai dengan 35 hari. Namun, yang aku alami sangat spesial, terkadang rutin setiap satu bulan, tidak jarang pula setiap dua, tiga, bahkan sampai enam bulan sekali. Meskipun demikian, aku tidak pernah mengalami keluhan sakit di bagian reproduksi ataupun gejala PMS (Premenstrual syndrome) yang berlebihan. Semuanya normal, hanya siklusnya saja yang berantakan.


Dulu waktu masih gadis (ya elahhh gaya) aku merasa berbeda dari teman-teman yang lain, jarang haid. Bahkan kalau puasa ramadan nggak perlu ganti, karena nggak ada yang bolong hehe. Tapi, karena dulu aku tuh cuek orangnya, nggak pernah memeriksakan diri ke dokter. Dibiarin aja gitu. Karena memang nggak ada keluhan lain, kayak sakit dan segala macamnya kan. 


Nah, aku baru berani periksa ke dokter itu waktu mau nikah. Ya, mulai khawatir kan yah. Soalnya aku baca-baca kalau perempuan haid nggak teratur itu nanti susah dapet anaknya. Kan jadi parno yak 😢. Beberapa bulan sebelum nikah aku ke dokter tuh. Di sana diagnosanya aku positif PCOS. Dokternya menyarankan untuk segera diterapi, kalau mau punya anak langsung setelah menikah nanti. Dokter waktu itu mengatakan aku masih bisa hamil, karena rahim aku bagus, hanya perlu untuk menghasilkan sel telur yang matang.


Panik karena kemungkinan aku untuk hamil kecil, semua saran dokter aku ikuti. Saat itu, dokter memberikan resep untuk mengatur ulang siklus haid. Dokter memberikan pil KB. Menurut keterangan dokter saat itu, cara ini bisa mengatur siklus haid menjadi normal (Namun, setelah melakukan research kecil-kecilan, aku menyadari ini adalah metode paksa). Akhirnya, aku pulang dengan harapan resep ini manjur untuk mengatasi PCOS.


Aku juga mencari tahu cara mengatasi PCOS melalui artikel dan jurnal-jurnal kesehatan. Selain tetap menjalani terapi awal yang diberikan dokter tentunya. Setelah membaca banyak sumber, ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan. Salah satunya seperti yang disarankan dokter tersebut. Namun, tidak ada jaminan pasti PCOS akan menghilang. Aku juga menemukan kengerian saat membaca artikel dan pengalaman penderita PCOS yang memilih berbagai macam terapi. Ternyata, resiko menjalani terapi ini adalah terbentuknya sel kanker. Semakin ngeri dong. Di satu sisi aku ingin hamil setelah menikah nanti, di sisi lain aku juga tidak ingin kesehatan terganggu jika melakukan jenis-jenis terapi yang belum pasti.


Hal yang aku takutkan terjadi, ternyata terapi yang aku jalani saat itu mengalami kegagalan. Ya, aku gagal karena kesalahpahaman tentang dosis resep yang diberikan oleh dokter. Aku sudah tidak mengerti lagi, apakah aku yang tidak paham atau dokter yang tidak bisa menjelaskan dengan baik tentang resep yang diberikan. Alhasil, aku memang mendapatkan haid setelah kunjungan ke rumah sakit, namun darah haid tidak berhenti selama 20 hari.


Aku sempat depresi menjelang pernikahan karena hal ini. Akhirnya, suami (saat itu masih calon :)) memberikan dukungan yang luar biasa. Suami bilang: “tidak perlu ke dokter, nikmati saja hidup, dan ubah pola hidup menjadi lebih sehat. Kalau soal anak, rezeki Tuhan yang ngatur.”


Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti ke dokter. Memilih alternatif lain dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, dengan makan makanan yang bergizi (no junk food) dan olahraga rutin. Hal paling penting yang harus aku garis bawahi adalah, jauhi stres, jangan banyak pikiran, dan jangan pernah memendam masalah, karena hal ini sangat signifikan dampaknya terhadap perkembangan PCOS.


Aku sangat bersyukur, akhirnya setelah 3 bulan menikah, Tuhan menitipkan kepada kami seorang anak laki-laki. Ya! Saya hamil. Saya bisa hamil. Tanpa obat-obatan. Tanpa terapi. Alhamdulillah. Tadinya khawatir dibilang susah hamil, tapi sekarang alhamdulillah udah punya dua anak (mau tiga bahkan, eh ketauan deh). Bahkan ketiga anakku ini nantinya akan berjarak 1.5 tahun saja😂. Oh iya, aku juga nggak pake KB sih. 


Semoga para perempuan di luar sana yang memiliki diagnosa PCOS juga bisa mendapatkan buah hati yang diinginkan tanpa harus terapi dan obat-obatan. Karena satu-satunya obat adalah hidup sehat dan bahagia.


Btw, aku juga tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa terapi ke dokter itu nggak boleh loh ya. Pasti sudah ada researchnya juga tentang pengobatan PCOS ini. Silahkan kalau yang mau terapi ke dokter. Untuk memeriksakan kondisi juga tetap wajib ke dokter dulu. Karena kasus tiap orang beda-beda kan. 


Tapi, mungkin bagi kalian yang udah bolak-balik ke dokter dan gonta-ganti metode terapi tapi belum berhasil, ada baiknya dicoba saranku di atas. Ingat, pola makan yang sehat, olahraga, dan bahagia. Jauhi stress. Ini berlaku untuk suami juga ya. 


Oh iya, untuk referensi lain saja, beberapa orang yang aku kenal juga susah hamil karena tekanan kerja di kantor. Jadi, kalau mau program hamil, ada baiknya lepaskan diri dari ikatan kantor dengan ambil cuti panjang dan honeymoon kedua deh 😊. Ingat, harus bener-bener happy hidupnya. 


Semoga segera dianugerahi buah hati ya sayang-sayangku. 


Okay women, hope this article can help you and keep being a creative women ya :) 

Comments

Popular Posts